2026-07-16 09:27:07

PIALA DUNIA 2026 (bagian-7 habis) KLUB SPARTA AMLAPURA TAHUN 1980-AN RAIH TROPY JUARA I ADA “MARIO KEMPES”, "MURI", DAN YUNIOR-SENIOR

Lingkungan Oleh: Putra


Penulis, I Komang Pasek Antara

     Piala dunia 2026 segera akan berakhir, Argentina versus Spanyol akan menjadi puncak klimaks setelah sebulan lebih bergulir. 
     Demikian juga tulisan (bagian-7) dari 6 seri ikut berakhir. 
      Perhelatan piala dunia 2026 telah melahirkan bintang Banyak pemain bintang, ada Leonel Messi, Kylian Mbeppa dan Harry Edward Kane dan lainnya. 
     Beragam cara warga penggila sepak bola di jagat raya menyambut dan memeriahkan perhelatan piala dunia. 
     Penulis yang mantan pemain sepak bola sejak masih kecil usia sekolah dasar hingga dewasa, juga turut menyambut dan memeriahkan Pala Dunia dengan cara menulis di media sosial bertajuk kilas balik sepak bola Karangasem.
      Tulisan nostalgia ini akhir (bagian-7) dari paparan pena sebelumnya untuk mengenang kerinduan  era masa lalu tahun 1980-an sepak bola di ujung timur pulau Bali. 
     Tentu ada kenangan suka-duka, manis-pahit bagi pelaku dan penikmat lapangan hijau. 
     Salah satu klub sepak bola di Karangasem banyak “bintang” fenomenal pada masanya.    
      Sparta Amlapura (Sport Taruna Amlapura), para pemainnya mayoritas warga tempat tingganya dekat di sekitar dekat lingkungan lapangan Candra Bhuwana Amlapura (kini Taman Budaya A. A Made Karang Candra Bhuwana Amlapura) 
     Kiprah Sparta masa itu, penulis masih punya satu-satunya simpanan kliping catatan berita liuputan jurnalistik hasil tulisan penulis yang waktu itu melakoni sebagai koresponden pada harian Nusa Tenggara (kini NusaBali), 25 Mei 1989, Sparta-Tanah Aron seri (0-0), kliping koran terlampir dan beberapa foto masa itu.
     Klub satu-satunya di Karangasem masa itu punya lapisan lintas usia senior dan yunior. Banyak punya pemain menjadi skuad pemain Persaka (Persatuan Sepak Bola Karangasem.
      Dari data yang saya peroleh, Sparta pernah raih juara I Bupati Karangasem Cup sekitar tahun 1980 (lihat foto skuad Sparta bersama piala kemenangan. 
     Pemain yang kerap menjadi “bintang” perhatian penonton seperti halnya para bintang piala dunia 2026. Salah satunya I Wayan “Muri” Suturisna. Pemain mirip wajahnya pesonil Grup Band legendaris Koes Plus, serba bisa bermain di semua sektor, belakang , tengah, dan sayap kanan dengan tendangan pisangnya ke arah gawang mampu menjebol gawang dari tendangan sudut. 
    Unik, terkadang Lik Muri, demikian biasa namanya disapa yuniornya. Saat latihan sepak bola kerap dipercaya para teman-teman pemain lainnya sambil main  merangkap wasit tanpa mengunakan alat peluit, tapi menggunakan suara bibir mulut  menyerupai peluit aslinya. 
     “Bintang’ bola lainnya masa itu dari Sparta, I Wayan Sudarma yang kelahiran Banjar Taman Amlapura yang lebih dikenal dengan sapaan nama Lambih. Sejak tahun 1981 usai klubnya raih juara di Karangasem langsung tinggalkan Bali merantau  kerja di Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN)  Bandung, Jawa Barat.
     Dimata penonton Karangasem saat itu Lambih disebut-sebut penonton Mario Kempes-nya Karangasem. Waktu itu demam Mario Kempes salahsatu pemain Argentina terbaik dan pencetak gol terbanyak dalam Piala Dunia 1978.
     Posisi Lambih striker fostur tubuh jangkung dan rambut gondrong meliuk-liuk menari lewati lawan.
     Dihubungi Lambih melalui WhtasApp. Dirinya mengenang banyak pengalaman berharga yang saya peroleh dari sepakbola Karangasem menempa fisik dan skil sepak bola sampai berlanjut berkarier sepakbola di klub tempat kerjanya IPTN dan Angkasa Bandung, Jawa Barat
     Sedangkan di bawah mistar penjaga gawang Sparta, I Nyoman “Laying” Sudarsana, penjaga gawang terbaik yang dimiliki saat itu juga menjadi andalan Persaka Karangasem diberbagi laga pertandingan. 
    Ciri khas Pak Oman, demikian nama akrab yang dipanggil yuniornya, bukan saja tugasnya menangkap bola di wilayah sarangnya, tetapi dipercaya sebagai kapten kesebelasan juga berani tangkap bola di kaki lawan. 
    Terkadang dia juga menjadi komando lapangan sebagai kapten kesebelasan, teriak-teriak memotivasi  mengatur teman-temannya ketika lawan menyerang wilayah pertahanannya. “Ayo Yan Muri jaga lawan dan sikat Yan”, terikaknya kepada Muri.
    Ketiga pemain tersebut kini masih sehat meski sudah ada yang memasuki usia lansia kepala tujuh.    
     Sedangkan pemain lainnya yang pernah bergabung di Sparta tidak kalah kualitas mainnya diantaranya Ibrahim Kalean, Abdilah, A.A. Agung Putra (alm), I Komang “Eneng” Urdika (alm), “Dek Te” Suardana (alm), Komang Arya. Ada catur bersaudara I Wayan “Gilik” Sudana, I Ketut “Beleleng” Sugiarta, I Ketut Rai Sutarta, I Wayan Karang,  dan pemain kidal sayap kiri, Tudek Setiawan, Cok Lilus, “Bokat” Taman, dan Yan Jaya. 
    Ada juga pemain trio, Cok “Pepe” Arimbawa, “Alang” Putra Yasa, dan Ketut Marjana sebelum bergangung dengan Klub Indonesia Muda (IM).   
   Trio pemain potensial tersebut sudah almarhum, Amor Ring Acintya.
     Cok “Pepe” Arimbawa, Putra Yasa “Alang”, Cok Lilus, Marjana, Sudana “Gilik”, Yan Jaya, dan Taman “Bokat”, mereka segenarasi  teman dekat seangkatan sekolah SMP kerap menjadi andalan sepak bola pelajar wakil Karangasem ke Provinsi Bali. 
    Semasih hidup pensiun dari pemain bola, Putra Yasa “Alang” dan Cok “Pepe” Arimbawa pernah melanjutkan karier tidak jauh dari olahraga bola. “Alang” profesi wasit sepak bola, sedangkan Cok “Pepe” pelatih bola basket pelajar di Karangasem yang sukses mengantar anak asuhnya tingkat sekolah dasar raih juara I  Bali dan NTB. 
    Silahkan pembaca tulis di kolom komentar untuk saling berbagi pengalaman meramaikan ajang Piala Dunia 2026.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Walikota Jaya Negara Hadiri Ibadah Paskah MPUK Denpasar Tekankan Kerukunan Umat Beragama Wujudkan Masyarakat Produktif.