2026-03-01 03:54:07

27 Februari 2026 | Vrindawan, India “Menenun Harmoni Dunia dari Bali ke Bharat”

Lingkungan Oleh: Putra


Ida Rsi Putra Manuaba – Padmashri Agus Indra Udayana
Chief Guest pada Pembukaan International Yoga Festival Vrindawan 2026
Vrindawan, India – Tokoh spiritual asal Bali, Ida Rsi Putra Manuaba, yang dikenal secara internasional sebagai Agus Indra Udayana, hadir sebagai Chief Guest dan menyampaikan sambutan utama pada pembukaan International Yoga Festival Vrindavan 2026 yang diselenggarakan pada 27 Februari 2026 di kota suci Vrindavan.

Festival ini mempertemukan para guru yoga, praktisi, pencari kebenaran, serta komunitas spiritual dari berbagai negara untuk merayakan yoga sebagai jalan kesadaran dan harmoni global.
Kebijaksanaan Spiritual Bali: Harmoni sebagai Jalan Hidup
Dalam pidatonya yang berjudul “Balinese Spiritual Wisdom: Living Harmony in a Modern World,” Ida Rsi Putra Manuaba menegaskan bahwa yoga bukan sekadar praktik di atas matras, melainkan cara hidup yang menyatukan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Beliau memperkenalkan filosofi luhur Bali, Tri Hita Karana — Tiga Penyebab Kebahagiaan dan Kesejahteraan:
Harmoni dengan Tuhan
Harmoni antar sesama manusia
Harmoni dengan alam semesta
“Yoga bukan hanya tentang postur tubuh. Yoga adalah kesatuan yang dijalani dalam doa, dalam kebersamaan, dan dalam cara kita menjaga bumi,” ungkap beliau.
Yoga sebagai Persembahan Kehidupan
Beliau menjelaskan bahwa dalam kehidupan masyarakat Bali, spiritualitas tidak terpisah dari keseharian. Sejak matahari terbit, doa dan persembahan menjadi wujud kesadaran bahwa hidup adalah anugerah.
Setiap canang dan dupa yang dihaturkan bukan sekadar ritual, melainkan latihan kehadiran dan rasa syukur. Nilai ini sejalan dengan ajaran Karma Yoga dalam Bhagavad Gita — bekerja dengan tulus tanpa keterikatan pada hasil.
“Ketika hidup menjadi persembahan, kecemasan berkurang. Ketika tindakan menjadi doa, ego melembut,” tuturnya.

Ekologi Spiritual dan Pesan untuk Dunia
Dalam konteks krisis lingkungan global, beliau menyoroti sistem irigasi tradisional Bali, Subak, sebagai contoh nyata ekologi spiritual, di mana air dipandang sebagai berkah suci yang dibagikan secara adil.
“Jika prana mengalir dalam tubuh kita, maka sungai adalah prana bagi bumi. Tidak mungkin kita memurnikan napas melalui pranayama namun mencemari sungai,” tegasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa yoga sejati menuntut tanggung jawab ekologis.
Taksu: Cahaya Batin dalam Praktik

Beliau juga mengangkat konsep Bali tentang Taksu, yaitu pancaran spiritual yang lahir dari ketulusan, disiplin, dan keselarasan dengan kehendak Ilahi.
“Taksu hadir ketika praktik menjadi tulus, pelayanan menjadi murni, dan ego menjadi bening,” jelas beliau, mengajak komunitas yoga global untuk tidak hanya mengejar teknik, tetapi juga penyelarasan batin.

Jembatan Spiritual Indonesia–India
Menutup sambutannya, Ida Rsi Putra Manuaba mengingatkan bahwa Bali dan Bharat telah terhubung selama berabad-abad melalui nilai dharma, kisah Ramayana, dan warisan budaya yang saling menginspirasi.
Beliau menyerukan pembaruan jembatan spiritual Indonesia–India yang dibangun melalui:
People to people
Culture to culture
Heart to heart
“Dunia tidak membutuhkan kompetisi spiritual. Dunia membutuhkan kolaborasi spiritual,” pungkasnya.

Ida Rsi Putra Manuaba – Padmashri Agus Indra Udayana adalah pendiri Ashram Gandhi Puri, pusat pendidikan spiritual dan sosial di Bali yang mempromosikan nilai-nilai Gandhian, pemberdayaan generasi muda, serta jembatan budaya antara Indonesia dan India.
Melalui dedikasi panjang dalam pengabdian, beliau terus menguatkan harmoni sebagai fondasi kebangkitan spiritual dunia.

Baca Artikel Menarik Lainnya : KEPALA BASARNAS BALI TUTUP PELATIHAN POTENSI SAR DI NUSA PENIDA