2026-08-01 17:09:56

60 dan 70 Tahun SMAN 1 Amlapura dan SMPN 1 Amlapura KISAH ALUMNI ANGKATAN TAHUN 1960-AN  ANGKUT BATU JALAN KAKI DARI TUKAD JANGGA KE SEKOLAH, DAN SEKOLAH DI PENGUNGSIAN

Lingkungan Oleh: Putra


Penulis, I Komang Pasek Antara

     Hari Sabtu, tanggal 1 Agustus mejadi tonggak perjalan sejarah dua sekolah negeri di ujung timur Bali, SMPN Karangasem dan SMAN Karangasem (kini SMPN 1 Amlapura dan SMAN 1 Amlapura).    
     Kedua sekolah tersebut telah berusia  lebih enam dasawarsa bersamaan tanggal kelahirannya. 
    Tahun 2026 ini SMPN 1 Amlapura berulang tahun ke-70, sedangkan SMAN 1 Amlapura ke-62. 
     Terkait suasana ulang tahun kedua sekolah tersebut, ada kisah cerita menarik dari seorang alumni kedua sekolah tersebut hingga menamatkan sekolah pada era tahun 1960-an atau 60-an tahun lalu. 
     Alumni  ayah dari  9 orang anak dan 15 cucu ini tersebut namanya I Ketut Merta, biasa disapa dengan nama Tutuk.     
     Penulis beberapa hari lalu sengaja menemui dirinya di rumahnya bilangan Karang Suwung, Jalan Lettu Alit Amlapura, ingin memperoleh kisah bagaimana suasana sekolah zaman dulu serba masih terbatas, tidak seperti sekarang ini yang bisa diteladani oleh generasi berikutnya. 
     Tutuk kini telah berusia 76 tahun lahir tahun 1950. Meski demikian dirinya masih tampak sehat, ingatan masa sekolahnya dulu masih kuat, juga  tutur katanya masih runut dengan akses kata jelas terukur.
    Cerita kisahnya. Kedua sekolah SMPN  dan SMAN Karangasem waktu itu awalnya ada di lokasi lapangan Alun-alun (sebutan lapangan dahulu), satu lokasi dengan lapangan olahraga sepak bola bagian paling sisi pinggir selatan lapangan, kini Taman Budaya A.A Made Karang Candra Bhuwana Amlapura.    
     Kemudian selang beberapa tahun lagi kedua sekolah tersebut pindah ke Jalan Ngurah Rai Amlapura seperti sekolah yang ada sekarang ini.
    Tutur Tutuk, kedua sekolah tersebut jadi satu bangunan gedung satu atap, bahkan ada satu sekolah lagi namanya SPGN (Sekolah Pendidikan Guru Negeri) program dua tahun. 
     Penulis yang lahir tahun 1961 kebetulan bersamaan tanggal lahir 1 Agustus dengan kedua sekolah tersebut juga tahu sedikit seperti yang dituturkan Tutuk.
      Bila dibandingkan dengan gedung sekolah sekarang ini, fisik gedung sekolah tersebut waktu itun sangat sederhana. Berjejer dari barat ke timur menghadap ke utara serambi depan. Atap setengah bagian puncak menggunakan genting dan sebagain di bawahnya menggunakan alang-alang. Mengapa alang-alang?, agar lebih kuat menahan gempuran tendangan nyasar bola sepak bola ke arah gedung sekolah, mengingat sebelah utaranya sekolah masih dalam satu lokasi ada lapangan sepak bola yang tiang gawangnya ada di sebelah selatan. 
     Ada yang menarik cerita pilu Tutuk pensiunan PNS Pemerintah Kabupaten Karangasem. Tahun 1963 saat bencana meletus Gunung Agung melanda sebagian wilayah Karangasem, dirinya baru mulai duduk dibangku kelas I SMPN Karangasem. Warga Karangasem yang tinggal di wilayah berdampak letusan gunung banyak ngungsi ke luar wilayah berdampak letusan.   
     Tutuk bersama keluarga dan teman-teman sekolahnya di SMP ngungsi ke Desa Ulakan, Kecamatan Manggis. Waktu di pengungsian dirinya bersama teman-teman sekolahnya menggunakan sarana belajar gedung di SDN 1 Ulakan. “Saya masih terngiang ingat waktu itu Ibu Netty guru sekolahnya SMPN Karangasem mengajar Bahasa Inggris belajarnya  di serambi kelas,”, Cerita Tutuk. 
     Untuk diketahui, Ibu Netty tinggal di Puri Batuaya Karangasem sampai saat ini beliau masih sehat telah berusia 90 tahun. Bahkan belum lama Ibu Nety tanggal 12 Juli 2026 lalu beliau hadir ikut reuni diundang oleh mantan didiknya alumni SMPN 1 Karangasem angkatan tahun 1973 tempat di Puri Agung Karangasem, Jalan Sultan Agung Amlapura. 
     Lanjut penuturan Tutuk, masa letusan Gunung Agung sebelum mereka ngungsi, Tutuk ditugaskan oleh sekolah ikut bersama teman-teman lainnya jaga-jaga keamanan di lingkungan sekolah, karena rumah tempat tinggalnya di Jalan Kapten Gebun sekarang dekat sekolah hanya jarak 100 meter ke arah selatan.
     Singkat cerita, Tutuk mantan Keliang Banjar Adat Wiryasari Amlapura ini. Tamat dari SMPN Karangasem tahun 1965 lanjut ke SMAN Karangasem lokasi sekolahnya masih di tempat yang sama waktu di SMP status pinjam gedung dari SMP.
     Mulai masuk SMA ada cerita menarik lainnya dari Tutuk. Ada rencana sekolahnya pindah ke Jalan Ngurah Rai Amlapura, gedung SMAN 1 Amlapura yang ada sekarang ini. Seluruh siswa termasuk dirinya sudah kelas III jelang tamat sekolah, gotong royong mencari material batu bahan bangunan di Tukad (sungai) Jangga.    
   Waktu itu pasca letusan Gunung Agung banyak batu berserakan dibawa lahar letusan gunung. Bukan saja hanya mengumpulkan batu tetapi langsung membawanya jalan kaki ke sekolah jaraknya sekitar 3 km. 
    Meski relalif jaraknya jauh bawa batu, tetapi dilandasi jiwa gotong royong semangat kebersamaan teman-teman sekolah senasib.    
    Tetapi gedung sekolah belum selesai membangun, dirinya keburu tamat sekolah tahun 1968.
    Demikian halnya peristiwa  mirip seperti Tutuk juga dialami penulis, ketika sekolah di SMAN Karangasem angkatan 1978, sekolah kena musibah gempa bumi tahun 1980. Sekolah rusak total, sempat belajar di halaman sekolah beratapkan seng dan tembok bedeh. Kemudian semua siswa perkelas pindah tersebar ke gedung sekolah-sekolah SD dan SMP sekitarnya yang luput dari kerusakan gempa. Gotong royong kumpulkan puing bangunan angkut material bahan bangunan. Sampai bangunan selesai bantuan dari Toyota Jepang. 
     Ketika penulis tanya kepada Tutuk, siapa teman-teman yang seangkatan sekolah di SMAN Karangasem?. Pikiran Tutuk nerawang mengingat-ingat masa lalunya sembari persilahkan penulis minum air mineral suguhan istrnya. 
    Katanya Tutuk, “kebanyakan teman-teman saya sealumni seangkatan di SMA sudah almarhum,”. Salahsatu  teman yang masih diingat hidup sehat I Wayan Sudirta anggota DPR Pusat kelahiran Desa Pidpid, Karangasem dan I Ketut Arga (alm) dari Banjar Pekandelan Karangasem    
    Juga dia masih ingat kepala sekolahnya di SMP dan SMA waktu itu. Kepala SMPN Karangasem Pak Sara, sedangkan Kepala SMAN Karangasem, I Gede Pugleg Suparwatha.
     Pada usianya yang sudah semakin senja, Tutuk hidup sangat sederhana bersama keluarga istri, anak-anak dan cucu. 
     Sehari-hari selalu ditemani gitar bolong kesayangannya yang menjadi hobi musiknya sejak masih sekolah.    
     Dirinya juga kerap baca buku keagamaan, menyimak perkembangan dunia hukum,  dan politik tanah air melalui media sosial.
    Dirinya dikenal warga saat masih sekolah remaja aktif di musik jadi anak band. Kerap tampil bersama tergabung kedalam grup band “Lavarista”. Nama grup terinspirasi dari situasi pasca letusan lahar/lava letusan Gunung Agung.    
    Diantara personil grupnya yang masih diingatnya A. A. Bima dan Arifin, kerap grupnya manggung menghibur warga Karangasem.  
   Dirinya menyayangkan banyak kenangan foto musik saat manggung hilang. 
    Penulis langsung ambil gambar rekam video, Tutuk masih kuat memainkan jemari menekan dan memetik senjar gitar bolong lantumkan berturut-turut tiga buah lagu lawas dari grup musik legendaris Panbers  “Pilu”, “Akhir Cinta” dan Koes Plus “Kembali ke Jakarta”.
    Ada pesan nilai yang menjadi isnpirasi generasi muda dai sosok Tutuk, semangat sekolah sampai jenjang pedidikan menengah dengan situasi dan keterbatasan pada zaman masa itu.
     Mengakhiri wawancara, Tutuk menyampaikan ucapan selamat ulang tahun almamaternya SMPN 1 Amlapura dan SMAN 1 Amlapura yang telah mendidik dirinya menjadi orang seperti sekarang ini. Semoga sekolah mampu melahirkan generasi-generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya, dan berbakti  kepada bangsa dan negara.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Peduli kemanusiaan dimasa Pandemi, Pengurus KNPI Klungkung gelar bakti sosial bagikan Paket Sembako ke Warga Kurang Mampu