2026-10-15 18:14:33

Kelangkaan BBM di Karangasem berlanjut

Lingkungan Oleh: Putra



AMLAPURA – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Karangasem, Bali, masih berlanjut. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Kota Amlapura, tetapi juga dirasakan warga di Kecamatan Selat. Masyarakat terpaksa mencari BBM ke sejumlah tempat, bahkan harus mengantre tanpa kepastian mendapatkan bahan bakar.

Situasi tersebut terlihat pada Kamis sore (15/10/2026), ketika sejumlah warga sempat mengantre di salah satu Pertashop di Kecamatan Selat. Antrean bahkan mengular hingga beberapa meter. Namun, BBM jenis Pertamax yang biasanya dijual di tempat tersebut tak kunjung datang, sementara Pertashop tetap tutup.

Warga yang telah meluangkan waktu untuk mengantre pun harus pulang dengan tangan kosong.

“Ada info kalau BBM akan datang,” ujar Ketut Darma, salah seorang warga setempat yang ikut mengantre.

Namun, hingga sore hari, pasokan BBM yang diharapkan tidak kunjung tiba. Warga pun kecewa karena tidak mendapatkan kepastian kapan bahan bakar kembali tersedia.

Kondisi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah Pertashop lainnya. Antrean warga sudah terlihat sejak pagi, tetapi pada sore hari stok BBM dilaporkan habis. Akibatnya, masyarakat harus mencari alternatif tempat untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar kendaraan mereka.

BBM Eceran Ikut Langka, Harga Melambung

Kelangkaan BBM juga berdampak pada penjualan di warung-warung eceran, termasuk penjual yang dikenal masyarakat sebagai Pertamini. Pasokan yang sulit diperoleh membuat sebagian pedagang tidak lagi memiliki stok untuk dijual. Kalaupun masih tersedia, beberapa di antaranya menyimpan BBM untuk kebutuhan sendiri.

Di tengah terbatasnya pasokan, harga BBM eceran yang ditemukan masyarakat juga tergolong tinggi. Pertalite dilaporkan dijual sekitar Rp25.000 per botol berisi 1,5 liter. Sementara itu, Pertamax di sejumlah warung eceran disebut mencapai Rp30.000 per botol.

Harga tersebut merupakan informasi yang dihimpun dari kondisi di lapangan dan belum mewakili seluruh penjual BBM eceran di Karangasem.

Situasi ini semakin menyulitkan masyarakat, terutama warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan bermotor. Kelangkaan BBM tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga berpotensi meningkatkan pengeluaran rumah tangga dan biaya operasional usaha kecil.

Masyarakat Berharap Jatah Pertashop Memadai

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berharap pihak terkait, termasuk Pertamina, segera mengambil langkah nyata untuk memastikan distribusi BBM di Karangasem kembali normal.

Salah satu harapan yang mengemuka adalah agar alokasi atau jatah BBM untuk Pertashop diberikan secara memadai sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi di lapangan.

Pertashop dinilai dapat menjadi salah satu alternatif tempat pengisian BBM, khususnya ketika antrean di SPBU meningkat. Dengan pasokan yang cukup dan distribusi yang teratur, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh bahan bakar sehingga penumpukan kendaraan di satu titik dapat dikurangi.

Selain menambah kecukupan pasokan, masyarakat juga berharap distribusi BBM diawasi secara ketat agar tepat sasaran. Pengawasan diperlukan untuk mencegah praktik penimbunan, pembelian berlebihan, maupun munculnya penjual dadakan yang memanfaatkan situasi kelangkaan untuk meraup keuntungan.

Jangan sampai BBM yang seharusnya menjadi kebutuhan masyarakat justru sulit diperoleh, sementara harga di tingkat eceran melonjak dan warga kecil menjadi pihak yang paling dirugikan.

Masyarakat berharap pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak terkait segera melakukan evaluasi terhadap pola distribusi BBM, termasuk memastikan ketersediaan stok, memperjelas jadwal pasokan, serta menindak tegas apabila ditemukan penyimpangan.

Bagi warga Karangasem, persoalan ini bukan sekadar antrean atau sulitnya mendapatkan Pertamax. Lebih dari itu, masyarakat membutuhkan kepastian bahwa BBM tersedia dalam jumlah yang cukup, dapat dibeli dengan harga yang wajar, dan didistribusikan secara adil.

Kelangkaan yang terus berlanjut diharapkan segera mendapat solusi konkret agar aktivitas masyarakat kembali normal, antrean kendaraan dapat dikendalikan, dan peluang permainan harga oleh pihak-pihak yang memanfaatkan keadaan dapat dicegah.

Baca Artikel Menarik Lainnya : 193 KPM di Desa Dawan Kelod Terima Bantuan Pangan Beras Bulog, Koptu Nyoman Suartawan Pastikan Tepat Sasaran Melalui pengawalan