Penulis, I Komang Pasek Antara
Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang puncaknya jatuh setiap 9 September besok menjadi momentum untuk mengenang kiprah para insan olahraga yang pernah mengharumkan nama daerah dan Indonesia. Salahsatunya adalah I Wayan Paramarta, warga Karangasem yang akrab disapa Aetek.
Dibalik keserhanaannya sebagai tukang servis arloji di Amlapura tersimpan kisah prestasi yang membanggakan. Pada usia 35 tahun, Aetek berhasil meraih medali emas dan juara I cabang bulu tangkis Fesfic Games ke-5, ajang olahraga bagi penyandang disabilitas tingjat Asia-Pasifik di Kobe, Jepang 15-20 September 1989.
Prestasi tersebut menjadi catatan sejarah bagi Aetek sekaligus mengharumkan nama Karangasem, Bali dan Indonesia meski peristiwa sudah berlalu 37 tahun, kenangan itu masih melekat kuat.
Kisah keberhasilan Aetek menuju Jepang bermula dari informasi dari teman yang biasa latihan bersamanya di tempat latihan Gedung Kesenian Amlapura, kini menjadi lokasi Gedung Mal Pelayan Publik (MPP) Jalan Gajah.
Saat itu Aetek mendapat informasi Fasific Games ke-5 digelar di Kobe, Jepang yang mempertandingkan sejumlah cabang olahraga bagi atlet disabilitas dari negara-negara Asia Pasific. Dari sejumlah cabang yang dipertandingkan, Aetek memilih cabang bulu tangkis, olagraga yang sejak kecil menjadi hobinya.
Dengan dipasilitasi pemerintah dan pihak terkait, Aetek mengikuti seleksi di Solo, Jawa Tengah. Hasinya Aetek berasil lolos dan terpilih memperkuat kontingen Indonesia pada nomor tunggal putra bersama atlet lainnya.
Di Kobe, Aetek tampil menyakinkan sejak babak penyisihan. Satu persatu peserta dari negara lain ditaklukkan hingga akhirnya dia melaju ke partai final.
Menariknya, final berlangsung all Indonesian final. Aetek Kembali bertemu lawan yang sebelumnya dihadapinya dalam seleksi di Solo.
Pertandingan berlangsung singkat dan dominan. Aetek menang telak dua set langsung 15-0 dan 15-0., memastikan medali emas dan gelar juara I untuk Indonesia.
"Medali saya masih simpan sebagai kenangan. Pulang dari Jepang, banyak wartawan yang mewawancarai saya,” kenang Aetek.
Menekuni Bulu Tangkis Sejak Sekolah Dasar
Kecintaan Aetek terhadap bulu tangkis tumbuh sejak duduk di sekolah dasar. Ia bersekolah di SDN 5 Karangasem, dikenal dengan nama sekolah China, kini Gedung MPP di Jalan Gajahmada Amlapura.
Awalnya Aetek bergabung dengan klub Harapan Amlapura. Ia berlatih dengan bersama anggota klub nondisabilitas. Ia bahkan biasa main latih tanding di sektor ganda.
Kemampuan bermainnya tidak kalah dengan atlet lainnya. Gerakannya sangat lincah seperti atlet fisik normal lainnya. Memilik pukulan smash, mampu mampu mengantisipasi bola lob panjang serta mengembalikan drop shot di depan net dengan akurat.
Keluarga Besar Penghobi Bulu Tangkis
Bulu tangkis menjadi bagian dari keluarga besarnya. Sejumlah anggota keluarganya dikenal memiliki hobi dan prestasi di cabang bulu tangkis
Salahsatu seorang sepupunya, Beny Ariawan Riangsa, sejak kecil hingga remaja berprestasi, beberapa kali mengikuti kejuaran dan memperoleh juara I tingkat Kabupaten dan Provinsi Bali.
Tempat latihan Aetak pun berpindah-pindah. Awalnya di lapangan gedung Balai Desa Adat Karangasem Jalan Gajah Mada Amlapura, kemudian pindah ke Gedung Kesenian Amlapura, dan terakhir pindah di lapangan pribadi teman sehobi bulu tangkis di kawasan Subagan, Karangasem.
Namum, seiring dengan usia yang semakin bertambah dan fisik tidak sekuat dulu, Aetek memutuskan berhenti bermain bulu tangkis sekitar empat tahun lalu. Kini dia memikmati hanya pertandingan melalui layar televisi.
Aktivitas sehari-harinya kini ini hanya menekuni pekerjaan sebagai tukang servis arloji dengan memanfaatkan tempat di toko milik ponakannya di Lingkungan Batanha II, Kelurahan Karangasem, Amlapura.
Pekerjaan itu telah ditekuni sejak tamat sekolah SMPN Karangasem. Aetek belajar secara otodidak bimbingan dari pamannya, Riangsa (Tahwa) yang dulu memahami seluk perbaikan arloji.
“Saya sejak tamat sekolah SMPN Karangasem sudah menekuni usaha servis arloji. Saya belajar sendiri dan mendapat tuntunan dari,” kenangnya.
Selama bertahun-tahun memperbaiki arloji berpindah-pidah seputar Pasar Amlapura. Ia pernah buka jasa di serambi depan Toko Manis Jalan Gaja Mada tempat pamannya berjualan, setelah itu pindah di toko kontrakan bersama ibunya di Jalan Ksatrian. Kini, Aetek melayani pelanggan di Jalan Ponegoro Amlapura sebelah barat Bank BPD Bali Cabang Karangasem.
“Saya tidak lagi bisa bekerja lama seperti dulu saat masih usia muda, karena pandangan matanya sudah mulai menurun, tidak kuat melihat perbaiki komponen-komponen arloji sangat kecil,” ujar Aetek sembari mengutak atik perbaiki arloji pelanggannya.
Layak Mendapat Apresiasi
Di tengah momentum Haornas, jejak perjuangan Aetek layak dikenang. Ia pernah berdiri di podium tertinggi, membawa nama Indoensia di ajang olahraga tingkat Asia-Pasifik.
Kini, di usia 73 tahun , Aetek tetap menjalani kehidupan sebagai tukang servis arloji. Sosok yang pernah mengharumkan nama bangsa itu menjalani hari-hari secara sederhana. Aetek menjalani hari-harinya seorang diri dan menggantungkan kehidupan dari penghasilan tukang servis arloji. Kedua orang tuanya telah meniggal dunia, sementara saudara kandungnya masih lengkap.
Kisah hidupnya menjadi pelajaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. "Kekurangan adalah kelebihan". Semoga jejak perjuangan dan semangatnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berprestasi dan mengharumkan nama daerah serta bangsa di kancah yang lebih luas.
Baca Artikel Menarik Lainnya : Bupati Gede Dana Ingatkan Masyarakat Tidak Lepas Liarkan Hewan Peliharaan