2026-08-21 13:27:18

MADE NETY SUMIADI SANGGING  96 TAHUN MENEMBUS  TIGA ZAMAN   MENGABDI UNTUK PENDIDIKAN 

Lingkungan Oleh: Putra

Penulis, I Komang Pasek Antara 

 Bagi seorang Made Nety Sumiadi Sangging suasana perayaan kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Agustus 2026 ini megingatkan perjalanannya mengarungi proses Pendidikan saat masa-masa penjajahan bangsa Belanda dan Jepang. 

Mereka adalah Ni Made Nety Sumiadi Sangging, sosok perempuan tangguh, mantan pendidik guru sekolah, telah hidup sampai melampaui tiga zaman, penjajahan asing, kemerdekaan, dan masa kini.  

Kini usianya hampir seabad, tepatnya 96 tahun, lahir 24 April 1930 di Denpasar. Hidup sehat bersama anak dan cucu  tinggal di Puri Batuaya, Jalan Kepten Gebun Amlapura, Lingkungan Batanha I, Kelurahan Karangasem.  

 Cerita Proses Masa Pendidikan Zaman Penjajahan dan Awal Kemerdekaan 

Wawancara dengan penulis di rumah kediamannya dalam suasana Kemerdekaan RI ke-81 tahun 2026, beliau didampingi menantunya Made Sariyani Sangging dan putra keempatnya, Cokorda Putra Susanta. Banyak cerita saat masa sekolah dan melakoni sebagai pendidik guru sekolah masa penjajahan asing dan setelah merdeka.  

Raut roman mukanya tampak masih  segar bersih, tutur katanya getar seperti masih saat mengajar di depan kelas, runut ceritanya, akses suara jelas terdengar di telinga meski sekali-kali nerawang mengingat dan mengutarakan kisah lalunya masa-masa menempuh pendidikan sekolah dan guru.  

Ibu Nety, demikian nama sapaan sehari-harinya. Dikenal sebagai seorang guru legendaris. Manis-pahit dunia pendidikan telah dirasakan. Sudah melakoni selama 36 tahun sebagai pendidik guru sekolah di Jawa dan Bali. Ribuan orang mantan anak didiknya telah menjadikan sukses diberbagai profesi termasuk beberapa orang sudah menyandang guru besar profesor.  

Buah kesuksesan dipetik Ibu Nety hingga jalani hidup karier abdi negara sebagai seorang pendidik dan membina keluarga, tak lepas dari penanaman  nilai-nila optimisme semangat perjuangan yang dialami pada  masa-masa penjajahan menuju kemerdekaan Indonesia tahun 1945,  dan  juga binaan dari kedua orang tuanya.  

 Kiat Sehat dan Sukses Tempuh Pendidikan 

“Kita harus selalu hidup optimis, semangat, jangan pernah membenci orang, dan loyal kepada bebagai pihak sepanjang itu positif”, ujarnya Ibu Nety dengan suara getar memberi resep hidup sukses. Hebatnya seperti pengakuannya, Ibu Nety sehat tanpa ada mengidap penyakit, hanya rutin minum vitamin saja dan makan cukup dua kali, sekitar  pukul sepuluh pagi dan pukul enam sore.   

Ibu Nety fisiknya masih kuat, belum lama ini, Minggu tanggal 12 Juli 2026 lalu sempat hadiri undangan mantan anak didiknya reuni emas 50 tahun alumnus angkatan 1973 SMPN Karangasem, tempat Puri Agung Karangasem, Jalan Sultan Agung Amlapura. 

Pendidikan Ibu Nety pada masa penjajahan diawali dari siswa sekolah dasar Belanda HIS   di Denpasar tahun 1937  (kini SMPN 1 Denpasar). Lanjut ke jenjang  SNP (Sekolah Normal Perempuan) di Singaraja tahun 1947. Kemudian melanjutkan lagi lebih tinggi di SGA  (Sekolah Guru Atas) Katolik Jogyakarta. dan sekolah terakhir pulang kampung ke Bali di PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama) di Denpasar.  

Setelah menyelesaikan sekolah, Ibu Nety melanjutkan kariernya menjadi guru mengikuti jejak aliran darah kedua orang tuanya yang juga seorang pendidijk guru sekolah. 

Awal Ibu Nety sebagai orang guru awal-awal tahun kemerdekaan Rebpublik Indonesia tahun 1949 di sekolah dasar Desa Sangsit, Buleleng, tempat kampung halaman bapaknya. Kemudian pindah tugas, oleh pemerintah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil guru di SMP Wates Kulon Progo, Jawa Tengah selama dua tahun 1952-1954, karena dirinya saat sekolah di SGA Katolik Yogyakarta memeperolah sekolah ikatan dinas dari pemerintah. Kemudian masa ikatan dinas selesai, dirinya pulang kampung ke Bali tahun 1960 mendapat tugas di SMPN 1 Singaraja.  

Sekolah ke Yogyakarta Berbekal Secarik Kertas 

Cerita Ibu Nety sewaktu akan sekolah di SGA Katolik Yogyakarta atas permintaan orang tuanya agar anaknya maju berbekal pendidikan. Dirinya takut menolak permintaan orang tuanya. Untuk kebaikan masa depan dirinya, Ibu Nety mesti perempuan menyebrangi daratan pulau Jawa hanya bermodal semangat, keberanian, dan berbekal secarik kertas dari orang tuanya mencari alamat yang dituju. “Ibu tidak tahu teman-teman dari Bali yang akan ikut sekolah di Yogyakarta, kenal saat berada di kapal menyebrang dari Gilimanuk ke Ketapang,” kenangnya.   

 Memajukan Pendidikan di Karangasem 

Kiprah peranserta memajukan bidang pendidikan  di Karangasem tidak bisa diragukan, selain sebagai guru dan kepala sekolah, juga ikut bersama teman-teman di Karangasem yang peduli Pendidikan ikut membidani pendirian Sekolah Taman Kanak-Kanak “Tunas Harapan”, satu-asatunya di Karangasem. Salahsatunya teman-teman Ibu Nety ikut mendidirkan TK “Tunas Harapan” istri Bupati Karangasem, Doorthea Juliana Rumeser. Waktu itu Bupati Karangasem dijabat Anak Agung (A.A.) Gede Karang dari keluarga Puri Agung Karangasem. 

Awalnya lokasi TK “Tunas Harapan” di Puri Kertasura tempat kediaman Bupati Karangasem, A.A. Gede Karang kini Puri Kreshna Duta, Jalan Lettu Sinta Amlapura, sebelah timur Taman  Budaya Anak  Agung Made Karang Candra Bhuana Amlapura. Kini TK “Tunas Harapan” pindah lokasi di Jalan Ngurah Rai Amlapura 

Cerita kisah lain lagi tentang kiprahnya di Karangasem, dirinya ikut bersama teman-teman lainnya diantaranya Ida Wayan Pidada (alm) dari Geria Pidada Karangasem, saat itu menjabat sebagai Ketua DPRD Karangasem, datang ke Negara, Jembrana meminta A. A. Gede Karang bersedia menjadi Bupati Karangasem. Waktu itu A. A. Gede Karang sedang menjabat sebagai Kapolres Jembrana. Perjuangannya berhasil, akhirnya A.A. Gede Karang menjabat Bupati Karangasem dua periode sejak 1967-1979. 

Tidak lama di Singaraja,  pindah mengajar di SMPN Karangasem tahun 1960-1976. Saat itu SMPN Karangasem sebelum pindah ke Jalan Ngurah Rai, ada di lokasi alun-alun, kini Taman Budaya A. A. Made Karang Candra Bhuwana Amlapura. Tutur Ibu Nety  “bangunan SMPN Karangasem sangat sederhana sekat bangunan antarkelas pakai anyaman bedeg bambu, atas setengah genting dan setengahnya alang-alang,”. 

Pernah menjabat Kepala Sekolah SMPN Sibetan, Kecamatan Bebandem tahun 1976 sampai th 1984, dan terakhir mutasi kembali dipercaya menjadi Kepala SMPN Karangasem tahun 1985 sampai punabhakti tahun 1990.  

Atas dedikasi, pengabdian dan loyalitasnya sebagai guru PNS selama 30 tahun dirinya mendapatkan penghargaan dari pemerintah pusat. “Ini lencana penghargaan dari pemerintah pusat atas dedikasi saya sebagai seorang pendidik,” katanya bangga penuh syukur sembari mengambil dari dompetnya memperlihatkan lencana warna emas kepada penulis. 

Kesuksesan Ibu Nety meniti hidup tidak lepas dari peran kedua orang tuanya asal kelahiran Buleleng, bapak I Ketut Tangkeban Sangging  dari Desa Sangsit, Kecamatan Sawan dan Ibu  Wayan Ludji dari Jeroan Banjar Bali, Singaraja. “Ibu anak kedua dari sebelas saudara, dari sebelas orang saudara, delapan orang telah meninggal, sedangkan tiga orang masih hidup sehat termasuk Ibu,” tuturnya pikirannya terbawa masa kecil menyebut nama-nama kesepuluh saudaranya.  

Rasa keibuaannya sudah muncul dari masa kecilnya, sambil sekolah Ibu Nety sudah beperan di keluarga “ngempu” adik-adiknya di rumah. “Saat tidak sekolah saya diberi tugas oleh orang tua “ngempu” adik-adik yag masih kecil,” kenangnya masa kecil. 

 

Awal Benih Cinta dengan Sang Suami 

Ibu Nety sampai pada masa usia senjanya bersama almarhum suaminya Tjokorda Sumampan telah dikarunia enam “pacek” (pasang) masing-masing tiga putra/putri, cucu tiga belas orang, dan sepuluh orang cicit. Keenam buah hatinya sukses barkarier di pemerintahan dan swasta, yakni secara berurutan anak sulung-bungsu, Dra. Tjokorda istri Sutejawati, Tjokorda Sutadnyana, Tjokorda Istri Sutadnyani, Cokorda Putra Susanta, Cokorda Putri Sutami, dan Cokorda Sumitra Yadnya, S.H. 

Meski telah kehilangan tambatan hati suaminya Tjokorda Sumampan berpulang tahun 2019 lalu, Ibu Nety masih tegar menatap mengisi hidup bersama anak, cucu, dan cicit mengaplikasikan  kesehariannya dari nilai-nilai perjuangan masa penjajahan yang pernah dirasakan penuh displin, semangat dan optimisme. Terlihat seperti penuturan putranya ketiga Tjokorda Sutadnyana. “Keseharian ibu, baca buku, majalah kesukaannya, makan teratur, istirahat cukup, dan olahraga ringan jalan-jaan di sekitar halaman rumah,”. Nilai-nilai itu yang menjadi kiat suksesnya mendidik anak dan turunannya. 

Ketika ditanya kisah cerita masa awal perkenalan dengan almarhum suaminya, Tojokorda Sumampan. Dengan senyum Ibu Nety bercerita. Diawali Saat sekolah di Singaraja Ibu Nety sekolah di SNP, sedangkan almarhum suaminya di SNL (Sekolah Normal Laki-laki).  

Perkenalan pertama  itu berlanjut  menjadi terpupuk benih cinta dengan sang suami pemuda tampan dambaan hatinya sampai akhir dipenghujung dipersunting dirinya menuju kepelaminan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 1955. “Ya waktu perkenalan pertama dengan Tjokorda saat masa sekolah di Singaraja,” katanya Ibu senyum mengenang masa remajanya.  

Ibu Nety menguasai dua bahasa asing Inggris dan Belanda. Bahasa Inggris pilihan bidang studi sewaktu menempuh penididikan sekolah di PGSLP Denpasar lanjut sampai mengajar di sekolah juga bidang studi Bahasa Inggris. 

Pesan Ibu Nety kepada teman-teman sejawat guru yuniornya, Ikuti peraturan, disiplin, loyal pada pekerjaan, dan kerjasama. 

Salahsatu mantan siswa anak didiknya di SMPN Karangasem alumni angkatan tahun 1973 yang telah sukses berkecimpung di dunia pendidikan, Prof. Dr. dr. I Wayan Putu Sutirtayasa, MSi. guru besar dosen di Fakultas Kedokteran Unud Denpasar, kelahiran Bugbug, Karangasem, terkesan cara Ibu Nety mendidik saat dirinya menjadi anak didiknya di sekolah.  

“Beliau adalah salah satu guru saya yang terbaik. Guru yang menjadi panutan saya, cara mengajar beliau sangat baik, tegas, dan tajam menekankan hal-hal yang penting harus diingatkan oleh murid-muridnya. Beliau memperhatikan murid secara teliti dan penyayang. Saya selaku muridnya tentu mengucapkan terimakasih dan ikut mendoakan, semoga beliau sehat, panjang umur dan hidup berbahagia, astungkara,” kesan I Wayan Putu Sutirtayasa disampaikan melalui WhatsApp. 

Semoga ibu tetap sehat dan panjang umur.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Polisi  Tindak Tegas pemotor Knalpot Brong,pengendara motor ugal ugalan kalang kabut