2026-07-04 15:37:13

PIALA DUNIA 2026 (bagian 4) INDONESIA MUDA AMLAPURA TAHUN 1980-AN MAYORITAS PEMAIN SISWA SMAN KARANGASEM

Lingkungan Oleh: Putra


 
 Penulis, I Komang Pasek Antara

     Denyut  perhelatan sepak bola dunia tahunan 2026 telah memasuki 16 besar dan duel pemain antarnegara semakin sengit.
      Beragam cara warga penggila sepak bola di jagat raya menyambut dan memeriahkannya. 
     Penulis yang mantan pemain sepak bola sejak masih kecil usia sekolah dasar hingga dewasa, juga turut menyambut dan memeriahkan Pala Dunia dengan cara menulis di media sosial bertajuk kilas balik sepak bola Karangasem.   
     Tulisan (bagain-4) ini bernostalgia mengenang kerinduan  era tahun 1980-an menampilkan sedikit perjalanan Klub Indonesia Muda (IM) masa itu. Tentu ada kenangan suka-duka, manis–pahit dari klub tersebut. 
    Nama Persatuan Sepak Bola  Indonesia Muda (PSIM) pernah bergaung di tingkat nasional era tahun 1970-an ikut berkompetisi nasional Galatama seperti Liga sekarang ini. 
     Nama Indonesia Muda yang lebih populer dengan sebutan IM  juga muncul di Karangasem. 
     IM Amlapura didirikan 1980-an waktu itu oleh seorang penghobi berat sepak bola Tjok Ram, SH. asal Puri Klungkung waktu itu menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Amlapura. 
     Pelatih IM waktu masa itu I Komang Gede (alm) guru SMAN Karangasem (kini SMAN 1 Karangasem) seorang guru olahraga di sekolah tersebut. 
     Sang pelatih merekrut pemain-pemain muda umur belasan tahun dari mayoritas anak-anak masih sekolah dan alumni SMAN Karamgasem. 
    Mungkin pembaca ada yang masih ingat wajah-wajahnya setelah 40-an tahun berlalu. Nama-nama pemain yang menempati berbagai posisi. Sektor depan striker diantaranya Penulis, Ida Bagus Oka Pidada,  “Duade” Widiasa Nida (kini petinggi Parpol Golkar), Karang, Abdilah. Lini gelandang selalu tampil diantarnya Timbing, Suantara, Ida Bagus Putra, I Wayan Suwinarsa (alm), Abdi dan lainnya. Lini gelandang dan back diperkuat Gusti Lanang Putra, I Made Arnawa, I Komang Arjana (alm), I Dewa Utama (saudara kandung “Duade”). I Made Arnawa purnawiarwan Polri yang kini menahkodai sebagai Ketua Partai Politik Perindo Kabupaten Karangasem dan Keliang Banjar Wiryasari Amapura, didapuk oleh sang pelatih menjadi pemimpin kapten kesebalasan sekaligus mengatur pola irama permainan di lapangan.
    Sedangkan kiper yang pernah bergabung di IM diantaranya dua orang kiper dengan julukan tangkapan akrobatik Eko dan  Ketut “Cece” Arianta. Kiper lainnya Komang Sugi, Budiasa dan lainnya.
       Eko setelah di IM hijrah ke klub Gajah Mada, karena IM tidak aktif lagi. IM tidak aktif lagi seiring kepindahan Tjok Ram selaku pemilik klub tugas ke luar Karangasem.    
     Geria Sindhu Jalan Lettu Alit Amlapura menjadi kenangan indah pasukan IM tidak terlupakan bagi pemain dan pendukung IM, karena ditempat itu  “markas” titik kumpul para pemain untuk menuju laga pertandingan di Lapangan Candra Bhuwana.       
Waktu itu Ida Bagus Sudewa guru SMAN Ktangasem masih walaka (Ida Pedanda Gede Putra Tianyar/lebar), ayah Ida Bagus Mahadewa  menjadi pengurus inti IM selalu memberikan motivasi anak-anak IM jelang laga pertandingan.  
    Ada cerita menarik salah seorang pemain IM, Ida Bagus Oka Pidada yang tidak pernah terlupakan ketika bicara tentang sepakbola. Pensiunan guru sekolah dasar  mengatakan  melalui WatsApp mengenang 40-an tahun lalu. “Bermain di Klub Indonesia Muda (IM) pada era 1980-an, memiliki kesan tersendiri bagi saya pribadi. Saya dipercaya menempati posisi sebagai streiker. Selama bermain di IM yang membuat saya sangat berkesan melihat penampilan sososk kiper/penjaga gawang IM Eko dan  I Ketut “Cece” Arianta. Gaya akrobatiknya tangkap bola dalam setiap pertandingan membuat ribuan penonton yang memadati lapangan Chandra Buana Amlapura berdecak kagum dan degdegan, bola menuju sarangnya mampu dijinakkan dengan tangkapan yang baik. 
     Lanjut Gus Oka, yang yang tak kalah  manarik kesannya. “Bagi saya ketika IM diundang  pertandingan persahabatan lawan jawara Persibu (Persatuan Sepak Bola Buleleng), Klub Setia Kawan Singaraja.  Waktu itu IM sempat unggul 2 -0 di babak pertama, saat  itu tembakan jarak jauh  saya dari luar kotak pinalti membawa IM unggul skor 1-0, kemudian digandakan oleh Abdillah  15 menit menjelang paruh waktu. 
    Di babak kedua, cerita Gus Oka, Setia Kawan yg dimotori penyerang andalan Persibu, Bagia  akhirnya bisa menjebol gawang Cece melalui tendangan bebas yang merubah kedudukan menjadi skor 2-1. 
     Menjelang babak kedua, usai Setia Kawan kembali mendapat tendangan bebas akibat pemain IM hand ball. Bagia kembali menjadi exekutor merubah kedudukan menjadi imbang 2-2”. 
    Kata Gus Oka lagi, selesai pertandingan manager Setia Kawan mendatangi  kiper Cece   karena penampilannya sangat menawan saat itu, kemudian ditawari untuk bergabung dengan Klub Setia Kawan. “Peristiwa itu tidak bisa saya lupakan sampai sekarang, tidak menyangka saya bisa menjebol gawang jawara Persibu”, kenang Gus 
  Kenangan lain, cerita duka saksi mata  dari Gus Oka tahun 1983, salah seorang pemain IM namanya Soma Arianta asal Klungkung tugas di Karangasem sebagai guru sekolah dasar meninggal saat bermain.
    Peristiwa singkat, kematiannya itu saat  bertanding dalam suatu kejuaraan di Lapangan Candra Bhuwana Amlapura, IM melawan salahsatu klub di Amlapura. Waktu itu Soma Arianta bertabrakan dengan lawan rebut bola atas dan Soma jatuh pinsan lanjut di bawa ke rumah sakit. Saat tabrakan kata Gus Oka, dirinya ada paling terdekat diantara kedua pemain tersebut.    
     Usai pertandingan, dikabarkan Soma Arianta meninggal, dan semua pemain IM ikut antar almarhum ke tempat tinggalya di Klungkung.
     Silahkan pembaca tulis di kolom komentar untuk saling berbagi pengalaman meramaikan ajang Piala Dunia 2026. (Bersambung)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Pimpin Upacara 17-an, Dandim Klungkung Ajak Personel Mari Bekerja Dengan JIBS