Penulis, Komang Pasek Antara
Gelaran sepak bola dunia empat tahunan 2026 telah memasuki 32 besar . Beragam cara warga penggila sepak bola di jagat raya menyambut dan memeriahkannya.
Penulis yang mantan pemain sepak bola sejak masih kecil usia sekolah dasar hingga dewasa, terusik ingatan masa masih remaja dulu, juga turut menyambut dan memeriahkan Pala Dunia dengan cara menulis di media online bertajuk “Kilas Balik Sepak Bola Karangasem"
Tulisan kali ini menampilkan kenangan perjalanan Klub Gajah Mada masa itu. Tentu suka-duka, manis–pahit melihat perhelatan si kulit bundar menggelinding di lapangan hijau Alun-alun Candra Bhuwana Amlapura tempo doeloe.
Klub Gajah Mada Amlapura mengambil nama salah satu jalan di Kota Amlapura, Jalan Gajah Mada karena pemainnya mayoritas tinggal di sekitar jalan tersebut dan sebagai base camp.
Pemimpin klub Gajah Mada pertama I Wayan Witarsa yang juga pemain sepak bola saat itu.
Rumah Wayan Witarsa di Pondokan Jalan Lettu Alit no. 14 Amlapura menjadi kenangan semua laskar Gajah Mada baik pemain maupun pendukung Gajah Mada.
Yang penulis terkesan, pendukung Gajah Mada selalu mendengung-dengungkan dengan yel-yel Gama, Gama! , Gama! kesebelasan kesayangannya. Gama singkatan dari Gajah Mada.
Rumah itu menjadi saksi bisu tempat kumpul jelang menuju tempat tanding di Canda Bhuwana Amlapura hanya berjarak hanya 100 meter.
Beberapa tahun kemudian selanjutnya, kepemeimpinan dinakhodai I Nyoman Antara “Aan” Sedewa yang juga pemain sepak bola sempai berakhirnya aktivitas oraganisasi.
Rata-rata pemain Gajah Mada masih muda-muda dan setiap tahun alih generasi diantaranya ada “Trio Pidada”, sebagai lein up turun bermain bersamaan. Sektor depan Ida Bagus “Porda” Sindu Pidada yang dikenal dengan umpan-umpan labung dari sayap bersama Ida Bagus Oka Pidada striker, dan Ida Bagus Jelantik di palang terakhir sektor belakang. Juga terkadang tampil saudara kandung Ida Bagus “Koni” Pidada. Lengkaplah keluarga catur kandung satu keluarga Ida Bagus Pidada, Geria Pidada Karangasem.
Ada striker ujung tombak Haok pemilik tendangan keras dan sempat masuk nominasi pemain terbaik Kompetisi Persaka tahun 1989.
Duet Ida Bagus Jelantik Pidada pengendali sektor back bersama I Gusti Agung “Krebek” Agustina, dan gelandang bertahan Gusti Wirawan yang dikenal dengan nama Tuk Wan. Mereka cukup tangguh saling bahu membahu antisipasi serangan lawan.
Sektor gelandang serang dikomandai Timbing Sanjaya. Ada penulis Komang Pasek Antara, Wayan “Ribek” Sudiana, Made “Jenget” Suarta dan Yasa (alm), Dek Ama, “Cedol” Suarta, “Dekde” Sudarsana, Made “Kaling” Astika, Made Dresta, Pande Yasa dan lainnya.
Ada tiga orang yang pernah bergabung di bawah mistar Gajah Mada, Nida, Ngetis, dan Eko. Kiper Eko sangat fenomenal, kelahiran Jawa kebetulan tingal di Karangasem di rumah keluarga pengusaha Ketut Swala. Waktu itu masih sekolah SMAN 1 Amlapura seangkatan dengan Ida Bagus Jelantik Pidada dan Gung Krebek” Agustina.
Meski Eko fostur tidak terlalu tinggi ideal untuk seorang penjaga gawang, namum memiliki skil mumpuni dan berani benturan dengan lawan, kerap tangkapan bolanya atraktif akrobatik. Dimanakah Eko sekarang?, mudahan dia baca tulisan ini
Sedangkan di lini depan ada silincah dengan sklil gocekan olahan bolanya, almarhum I Ketut Sumarjana yang dikenal sapaan Marjana, pemain andala Gajah Mada.
Peristiwa meninggalnya Marjana sangat memilukan dan sempat hebohkan penggemar sepak bola di Karangasem waktu itu tanggal 12 Agustus 1985 lalu karena tragedi kecelekaan lalu lintas bersama sepupunya Made Pasek Adnyana.
Situasi teragis itu justru saat sehari sebelum final pertandingan sepak bola antara Gajah Mada versus Sparta Amlapura dalam perayaan peringatan HUT Kemerdekaan RI yang selalu ditunggu-tunggu penonton.
Karena kedua klub favorite itu bertabur bintang pada masanya.
Pertanyaan penggemar sepak bola Karangasem saat itu, apakah pertandingan final nanti akan tetap dilanjutkan mengingat alamarhum andalah mantan pemain andalan skuad Sparta, teman-temannya di Sparta merasakan kehilangan ikut berkabung.
Peristiwa kecelakaan itu dimuat di media cetak Bali Post tanggal 14 Agustus 1985. Maaf tidak dishar ke FB, kliping koran masih penulis simpan rapi sebagai kenangan tak terlupakan. Agenda final tetap berlangsung sesuai jadwal.
Mugkin ada yang masih ingat peristiwa Eko dengan Marjana yang sempat memantik kemarahan penononton lapangan Candra Bhuwana Amlapura. Ketika itu pertandingan antara Indonesia Muda (IM) dengan Gajah Mada. Eko mewakili klub IM sebelum dirinya bergabung dengan Gajah Mada terjadi insiden dengan Marjana yang saat itu bergabung dengan Gajah Mada.
Detail peristiwanya, ketika Marjana melakukan manuver serangan ke gawang Eko, Eko dengan berani maju serobot serang bola yang masih berada penguasaan kaki Marjana. Marjana terkapar kesakitan berguling-guling, dan sontak beberapa penonton pendukung Gajah Mada berhamburan masuk lapangan bela Marjana. Syukur panitia pertandingan dan wasit mampu mencegah insiden itu.
Lapangan Candra Bhuwana era tahun 1980-an tidak pernah sepi dari penonton selalu membludak setiap ada pertandingan sepak bola.
Penulis yang era itu tekuni jurnalistik di sebuah media Nusa Tenggara (kini NusaBali) menulis beberapa berita jalannya pertandingan Gajah Mada versus klub lainnya dalam Kompetisi Persaka tahun 1989 di Lapangan Candra Bhuwana Amlapura. Kliping koran terlampir masih utuh tersimpan, silahkan baca. Dan foto-foto Gajah Mada yang penulis masih tersimpan. Semoga menjadi kenangan indah.
Kenangan tidak terlupakan yang sempat disampaikan kepada penulis, pemain Gajah Mada saat itu, I Gusti Agung “Krebek” Agustini, kelahiran Denpasar. Dia terkesan mulai tahun 1982 tinggal di Karangasem ikut keluarga sekolah di SMAN 1 Amlapura. Melihat kompetisi banyak klub sangat meriah antusias penonton sangat luar biasa memadati lapangan Candra Bhuwana Amlapura.
Baca Artikel Menarik Lainnya : Dandim Klungkung Terjunkan Personel Amankan Lomba Gerak Jalan Peringatan HUT Ke 80 RI