Penulis I Komang Pasek Antara
Gong gelaran sepak bola dunia 2026 empat tahunan telah bergulir di lapangan hijau di tiga negara Amerika Serikat, Meksiko dan Kanada.
Hampir semua mata penduduk belahan dunia tertuju kepada perhelatan si kulit bundar nonton langsung di stadion atau melalui layar kaca televisi atau nobar (nonton bareng) di layar lebar.
Beragam cara warga penggila sepak bola di jagat raya menyambutnya.
.Penulis yang mantan pemain dan penggila berat sepak bola sejak masih kecil usia sekolah dasar hingga dewasa turut, menyambut dan memeriahkan Pala Dunia 2026 dengan cara menulis di media bertajuk “Kilas Balik Sepak Bola Karangasem” bersambung secara berkala selama sebulan perhelatan word cup.
Tulisan awal kontennya mencoba mereview merekam kembali peristiwa masa lalu sepak bola Karangasem era tahun 1950-an melalui penuturan “pengelingsir” yang masih hidup dan sempat menyaksikan aktivitas sepak bola di Karangasem masa itu.
Bagi pembaca yang masa dulu era tahun 1950-an sempat sebagai penikmat aktivitas sepak bola di Karangasem akan terkenang kembali. Mungkin ada yang rindu memutar kembali jarum arloji menyaksikan si kulit bundar bergelinding di lapangan hijau Candra Bhuwana Amlapura bernostalgia. Kata orang bijak bernostalagia dapat memicu pelepasan hormon depomin yang nembauat perasaan menjadi lebih nyaman dan berbahagia sehingga efektif meredakan kecemasan dan stress.
Maksud, untuk ikut memeriahkan gelaran piala dunia melalui dunia maya digital. Diharapkan pembaca dapat menambahkan melengkapi sajian hasil liputan ditulis di kolom komentar untuk menambah pengetahuan pembaca khususnya yang belum lahir saat tahun 1950-an atau masih usia kanak-kanak, bagaimana kodisi Sepak Bola di ujung timur Bali dulu.
PARA PEMAIN ROKET KARANGASEM
Era suasana Indonesia awal-awal bangsa Indonesia meraih kemerdekaan dari para penjajah, sekitar akhir tahun 1950-an satu-satunya di Karangasem ada klub sepak bola kesohor di Bali namanya klub ROKET.
Untuk mengetahui tentang Roket, penulis menghubungi berbagai sumber langsung di Amlapura. Narasumber sedikit banyak tahu tentang Roket. Karena waktu itu meski usianya masih belasan tahun juga tinggal dekat dengan lapangan sepak bola lapangan satu-satunya di Karangasem, kini Taman Budaya Anak Agung Made Karang Candra Bhuwana Amlapura, tempat latihan Roket, sering saksikan Roket latihan tanding.
Diantara narasumber semuanya sudah sepuh, I Gede Taman “Lepang” (84 tahun) warga Banjar Taman Amlapura. Sampai kini Pak Gede Taman masih aktif setiap pagi olahraga di Taman Budaya Amlapura dekat rumahnya. Juga tokoh multi talenta olahragawan sepak bola era Roket, kareteka, dan pengayuh sepeda peraih rekor MURI, I Dewa Gede Rai (88 tahun), dan I Gede Wijaya Kusuma (75 tahun) matan guru SD tinggal di Puri Madura, Jalan Gajahmada Amlapura. Dulu pamannya Gede Wijaya Kusuma, Anak Agung Nengah Rai (alm) pemain inti Roket.
Ternyata nama Roket menurut keterangan Gede Taman “Lepang” singkatan dari Rukun Olahraga Kesebelasan Eka Taruna.
Nama-nama mantan pemainnya yang terdata gabungan warga kelahiran tempat tinggal di Karangasem dan pemain dari luar kelahiran Karangasem karena mendapat tugas dinas di Karangasem.
Pemain kelahiran Karangasem diantaranya I Wayan Ruta tinggal di Pondokan, I Nengah Raka (Banjar Kodok Darsana), ayah dari I Made Gunarta Kepala Lingkungan Kodok Darsana, Anak Agung Nengah Rai (Puri Madura Karangasem), Somia (Banjar Kodok Darsana), Alit C (Banjar Sida Karya), Husein Bajri (Karang Tohpati), I Komang Masta (Karang Suwung), I Ketut Rai Plego (Banjar Taman), I Nyoman Wendra/Angwe (Banjar Wiryasari), Bendesa (Banjar Basang Alas), Loka (Banjar Pekandelan).
Sedangkan pemain asal perantauan kebetulan tugas dinas di Karangasem diantaranya 3 orang dari TNI, Litlae, Alfon dan Gabriel, Usman Guru SLUB (Sekolah Lanjutan Umum Bawah) Saraswati Karangasem, Usman dan Kartono Guru SMPN Karangasem Anak Agung Raka, dan Madrasah.
Roket memiliki dua orang penjaga gawang fostur tubuh tinggi, I Ketut Rai Plego (Banjar Taman Sudarma), dan Madrasah. Semoga pemain Roket diatas masih ada yang hidup, bisa nyimak dan menambahkan melengkapi tulisan ini.
Sedangkan Dewa Gede Rai yang hingga kini masih sehat energik, katanya dirinya waktu itu di Roket hanya pemain lapis kedua reserve, masih duduk dibangku setingakt SMP. Maaf bila ada nama-nama pemain di atas ditulis kurang lengkap.
Bagi pembaca yang mengetahui dan dapat info dari berbagai pihak terhadap keberadaan Klub Roket jaman dulu, diharapkan dapat memberikan keterangan tambahan untuk melengkapi tulisan ini.
Roket pada saat mulai terbentuk terus berkembang alih generasi ke generasi, pemainnya sangat berkembang dan berjaya di Bali. Seperti dikatakan I Dewa Gede Rai, Klub Roket bagaikan pesawat Roket cepat terbangnya. Katanya I Dewa Gede Rai, Roket di Bali timur sangat unggul, kecuali Denpasar dan Buleleng selalu diperhitungkan oleh lawan.
Menurut penjelasan narasumber di atas, waktu itu Roket organisasinya sangat kompak. I Nengah Raka dipercaya teman-teman pemain menjadi koordinator klub dan beliau banyak pengorbanan waktu dan bantu dari sisi finansial kebutuhan klub.
Roket sangat di kenal di Bali. Sering bertanding ke seluruh Bali juga mendatangkan lawan dari Kabupaten lain main di Lapangan Candra Bhuwana Amlapura, kini Taman Budaya Kapten Anak Agung Made Candra Bhuwana.
Satu-satunya foto hitam-putih Roket yang penulis dapatkan dari peninggalan dokumentasi pemain Roket almarhum I Wayan Ruta yang juga orang tua penulis. Penulis perkirakan foto tersebut klub Roket saat bertanding di suatu tempat di laur Karangasem.
Salahsatu putra pemain Roket I Nyoman Wendra, I Komang "Wawan" Kresna melalui chat WA dapat cerita dari orang tuanya, bahwa lokasi dalam foto tersebut di Lapangan Klungkung saat Roket bertanding lawan Klub Apollo Klungkung.
Posisi dalam foto Klub Roket, satu-satunya foto yang tampak jelas ditandai sosok Husein Bajri (alm/jongkok urut kedua dari kanan) dari Karang Pati, Jalan Gatot Subroto Amlapura. Sedangkan I Nyoman Wendra/Angwe, menurut anaknya di foto ada di posisi jongkok di sebelah kanan pemain yang pegang bola.
Foto diri Husien Bajri telah terkonfirmasi kepada putri sulungnya Sofiah tinggal di Denpasar. Sedangkan pemain Roket lain dalam foto identitasnya belum terkonfirmasi dari ketiga narasumber di atas dan keluarga almarhum yang masih hidup. Belum terkonfirmasi nama-nama pemaian Roket yang tampak dalam foto, disebabkan pandangan mata narasumber berkurang karena faktor usia, juga lupa karena peristiwanya terlalu lama.
Saking legendanya klub sepak bola Roket di Karangasem, sempat diabadikan melalui nama klub Basket di Amlapura yang pemainnya tinggal di seputar Lapangan Candra Bhuwana Amlpaura.
Baca Artikel Menarik Lainnya : Status Darurat Bencana Kebakaran TPA Suwung Berakhir, Walikota Jaya Negara Sampaikan Terimakasih Pada Tim Yang Telah Bertugas Dengan Optimal