Nama lengkapnya I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Ia berasal dari keluarga bangsawan Puri Anom, Sarem, Kangin, Tabanan, Bali. Namun ia memilih keluar dari zona nyaman dan memilh menekuni dunia penulis drama, cerpen, novel, esai dll. Ia tersohor namanya dengan panggilan Putu Wijaya.
Tadi malam di Teater Salihara ada acara Malam Pembacaan karya Putu Wijaya oleh lima pemain Budi Suryadi, Firly Savitri, Fransisca Lolo, Henry C. Widjaja, Sita Nursanti. Mereka membacakan naskah Stasiun, Telegram, dan Bila Malam Bertambah Malam. Di akhir acara Putu Wijaya tampil dengan membawakan naskah tentang kemerdekaan.
Ia membawa sangkar burung, ember, sapu. Sambil duduk di kursi roda akibat vonis stroke ia bercerita tentang kisah burung yang diberikan kebebasan setelah 50 tahun di dalam sangkar. Tapi burung itu menolak karena takut kebebasan itu akan mengancam hidupnya: tidak mudah cari makan, jadi santapan hewan liar. Ia lebih memilih tidak bebas tapi hidup nyaman. Betapa geramnya Putu Wijaya atas ulang burung tersebut. Ia pun memukul sangkar dengan sapu, membanting dan mengusir burung agar segera meninggalkan sangkar. Di sisi lain ada 270 juta burung lainnya yang mendambakan kebebasan. Kronik kegeraman dan pengusiran burung ini yang menarik. Putu Wijaya mengajak interaksi penonton. Jika ia berteriak kuur ketekur. Penonton menjawa kur kur kur.
Kemampuan Putu Wijaya bertutur, berorasi nyaris tanpa cela seperti ia tengah membacakan sebuah naskah. Kemampuan langka yang tak dimiliki semua orang: mahir menulis, mahir berbicara.
Selamat merayakan 50 tahun Putu Wijaya berkarya. 11 April 2024 lalu ia telah merayakan usia ke 80 tahun. Terima kasih sudah menghibur setengah abad. Panjang usia dan karya Bli Putu. Rahayu 🙏🙏🙏
Repost Ulin Yusron
#PutuWijaya
Svarakaka
Baca Artikel Menarik Lainnya : JUMAT CURHAT / MESADU WAKAPOLRES KARANGASEM DI WANTILAN DESA ADAT TANAH AMPAO MANGGIS.